Industrialisasi Berbasis Sumber Daya dan Pertumbuhan Ekonomi di BRICS+: Jalur Menuju Keberlanjutan atau Ketegangan Lingkungan

 

Review Jurnal

"Resource-Driven industrialization and economic growth in BRICS+: A pathway to sustainability or environmental tension?" ("Industrialisasi Berbasis Sumber Daya dan Pertumbuhan Ekonomi di BRICS+: Jalur Menuju Keberlanjutan atau Ketegangan Lingkungan?")

    Penelitian berjudul "Resource-Driven industrialization and economic growth in BRICS+: A pathway to sustainability or environmental tension?" yang diterbitkan dalam jurnal Sustainable Futures (2025) menyajikan analisis kritis mengenai dilema pembangunan di negara-negara anggota BRICS+. Fokus utama studi ini adalah mengevaluasi dampak jangka panjang dari eksploitasi sumber daya alam, industrialisasi, pertumbuhan ekonomi, konsumsi energi terbarukan, serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terhadap jejak ekologis (ecological footprint) di negara-negara tersebut selama periode 1991–2022. BRICS adalah blok ekonomi yang beranggotakan Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan Seiring dengan perluasan BRICS pada tahun 2024 yang kini mencakup negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Mesir, dan Ethiopia.

Secara teoritis, penelitian ini berpijak pada beberapa hipotesis ekonomi lingkungan yang mapan. Salah satunya adalah Teori Kutukan Sumber Daya (Resource Curse Theory) yang memprediksi bahwa ketergantungan pada ekstraksi sumber daya alam cenderung memperburuk kualitas lingkungan melalui deforestasi dan polusi. Penulis juga menggunakan kerangka Hipotesis Kurva Kuznets Lingkungan (EKC) adalah sebuah hipotesis yang menggambarkan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kerusakan lingkungan yang menyatakan bahwa pada tahap awal pembangunan, pertumbuhan ekonomi akan memperburuk kerusakan lingkungan sebelum akhirnya membaik setelah mencapai tingkat pendapatan tertentu. Selain itu, studi ini menguji Teori Dekopling (Decoupling Theory) dan Hipotesis Dekopling Berbasis TIK, yang mengeksplorasi kemungkinan memisahkan pertumbuhan ekonomi dari kerusakan lingkungan melalui efisiensi energi dan inovasi digital.

Metodologi yang digunakan sangat kokoh, melibatkan teknik ekonometri panel canggih seperti Fully Modified Ordinary Least Squares (FMOLS), Dynamic Ordinary Least Squares (DOLS), dan Canonical Cointegrating Regression (CCR). Penggunaan tiga metode ini bertujuan untuk memastikan konsistensi hasil dan mengatasi masalah endogenitas serta korelasi serial yang sering muncul dalam data makro-panel. Penggunaan tiga estimator ini memungkinkan penulisi untuk mengatasi masalah endogenitas dan korelasi serial yang sering ditemui dalam dataset makro-panel, serta memberikan hasil yang lebih konsisten dibandingkan metode konvensional Peneliti memanfaatkan data dari World Development Indicators (WDI) dan Global Footprint Network (GFN) untuk menjamin reliabilitas analisis. Selain itu, uji kausalitas panel Dumitrescu-Hurlin diterapkan untuk memahami dinamika hubungan jangka pendek dan jangka panjang antar variabel.

Hasil analisis empiris menunjukkan temuan yang cukup mengkhawatirkan namun informatif. Eksploitasi sumber daya alam, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi terbukti memberikan tekanan positif yang signifikan terhadap jejak ekologis. Industrialisasi muncul sebagai pendorong paling intensif terhadap kerusakan lingkungan; berdasarkan estimasi FMOLS, eksploitasi sumber daya alam, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi terbukti meningkatkan jejak ekologis secara signifikan. Industrialisasi ditemukan sebagai pendorong tekanan ekologis terbesar, setiap peningkatan 1% dalam aktivitas industri dikaitkan dengan kenaikan mengejutkan sebesar 13,93% pada jejak ekologis. Pertumbuhan PDB juga ditemukan berkontribusi pada ekspansi jejak ekologis sebesar 1,56% untuk setiap 1% kenaikan ekonomi. Temuan ini memperkuat argumen bahwa model pembangunan BRICS+ saat ini masih sangat bergantung pada ekstraksi sumber daya dan industri padat karbon, yang pada gilirannya memperdalam ketegangan lingkungan.

Di sisi lain, penelitian ini menawarkan harapan melalui peran teknologi dan energi bersih. Konsumsi energi terbarukan (REC) dan pengembangan TIK terbukti secara signifikan mengurangi dampak ekologis. Peningkatan 1% dalam penggunaan energi terbarukan berkontribusi pada penurunan jejak ekologis sebesar 1,41%, sementara pengembangan TIK memberikan dampak mitigasi yang jauh lebih besar, yakni menurunkan jejak ekologis sebesar 6,68% untuk setiap 1% kemajuan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi energi dan optimalisasi sumber daya, sementara transisi ke energi bersih menjadi kunci utama untuk memutus rantai antara kemakmuran ekonomi dan degradasi alam.

Penelitian ini juga mengungkap dinamika hubungan timbal balik antarvariabel melalui uji kausalitas panel Dumitrescu-Hurlin. Temuan menunjukkan adanya kausalitas dua arah (bidirectional) yang signifikan antara eksploitasi sumber daya alam (NRE) dan jejak ekologis (EFP), yang mengindikasikan bahwa ketergantungan pada sumber daya alam tidak hanya memperluas jejak ekologis, tetapi tekanan lingkungan yang dihasilkan juga memaksa negara-negara BRICS+ untuk meredefinisi pola manajemen sumber daya mereka. Di sisi lain, ditemukan kausalitas satu arah (unidirectional) dari industrialisasi (IND) dan konsumsi energi terbarukan (REC) terhadap jejak ekologis, yang menegaskan bahwa ekspansi industri dan transisi energi merupakan penggerak utama perubahan kualitas lingkungan.

Di jurnal ini juga menyoroti perbedaan profil antar negara. Misalnya, Uni Emirat Arab di puji karena investasi besarnya dalam infrastruktur surya yang mulai memisahkan pertumbuhan PDB dari emisi. Sebaliknya, negara-negara seperti Iran dan Arab Saudi masih menghadapi beban ekologis yang berat akibat ketergantungan pada minyak, meskipun mulai menunjukkan arah menuju inovasi energi. Ethiopia dan Mesir, sebagai anggota baru dengan kapasitas institusional yang lebih rendah, menghadapi risiko besar jika mereplikasi model industrialisasi tradisional yang kotor, namun mereka memiliki peluang untuk langsung (leapfrogging) menuju teknologi hijau.

Berdasarkan temuan tersebut penulis menekankan bahwa pendekatan kebijakan "satu ukuran untuk semua" tidak akan efektif karena keberagaman struktur ekonomi di BRICS+ yang saat ini masih bersifat ekstraktif dan padat karbon, sehingga memerlukan restrukturisasi menuju praktik industri hijau. Rekomendasi kebijakan yang diusulkan meliputi penguatan tata kelola sumber daya bagi negara kaya mineral (seperti Rusia dan Arab Saudi), percepatan transisi energi bersih, dan integrasi teknologi digital dalam strategi lingkungan. Langkah-langkah ini dianggap krusial untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Goal 7,8,9,dan 13. Negara-negara kaya sumber daya disarankan untuk menerapkan pajak sewa sumber daya dan menginvestasikan kembali pendapatan tersebut ke dalam investasi berkelanjutan sesuai SDGs 12 dan 13. Untuk raksasa industri seperti China dan India, transisi menuju manufaktur rendah karbon dan pemberian insentif untuk inovasi hijau adalah keharusan. Secara kolektif, blok BRICS+ disarankan untuk membentuk "Dana Transisi Hijau" dan platform keberlanjutan digital bersama untuk memfasilitasi pertukaran teknologi dan kapasitas antar anggota.

Sebagai kesimpulan, jurnal ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi literatur ekonomi ekologis. Penelitian ini berhasil memetakan bagaimana kekuatan ekonomi baru di dunia dapat menavigasi jalan menuju keberlanjutan di tengah tantangan perubahan iklim global. Studi ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat kebijakan di BRICS+ bahwa ambisi ekonomi yang besar harus selalu diimbangi dengan tata kelola lingkungan yang baik agar pertumbuhan tidak berakhir dalam kerusakan ekosistem. menyeimbangkan ekonomi dengan keharusan keberlanjutan global dalam aliansi yang beragam dan geopolitik ini merupakan pesan utama dan berharga dari studi tersebut.


Komentar

Postingan Populer